Yogyakarta, 8 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) menyelenggarakan Pameran Purna Bakti bertajuk “RESONANSI: Gema Pengetahuan, Jejak Pengajaran” di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta. Pameran yang resmi dibuka pada Rabu malam (7/10/2026) tersebut menghadirkan 56 karya seni sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi tiga dosen yang telah memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni di lingkungan ISI Yogyakarta.
Pameran ini memberikan apresiasi kepada Prof. Drs. Martinus Dwi Marianto, MFA, Ph.D., Drs. Eko Sunarto, M.Sn., dan Dra. Titiana Irawani, M.Sn., yang memasuki masa purna bakti setelah menjalankan pengabdian sebagai pendidik dan akademisi. Ketiganya memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan seni serta berkontribusi dalam membangun tradisi akademik, mengembangkan praktik artistik, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi seniman berikutnya.
Sebanyak 56 karya yang ditampilkan terdiri atas 10 karya Martinus Dwi Marianto, 19 karya Titiana Irawani, delapan karya Eko Sunarto, serta 19 karya dari para kolega seniman. Kehadiran karya-karya tersebut tidak hanya memperlihatkan keragaman ekspresi dan perjalanan kreatif masing-masing seniman, tetapi juga menggambarkan hubungan akademik dan profesional yang terbangun selama masa pengabdian ketiga dosen tersebut.
Mengusung tema “RESONANSI: Gema Pengetahuan, Jejak Pengajaran”, pameran ini menjadi ruang refleksi mengenai keberlanjutan proses pendidikan seni. Pengetahuan yang diwariskan seorang pendidik tidak berhenti ketika masa pengabdian formal berakhir, melainkan terus berkembang melalui karya, pemikiran, penelitian, dan praktik berkesenian yang dilakukan oleh mahasiswa, alumni, serta kolega.
Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T., menyampaikan bahwa purna bakti merupakan bagian dari perjalanan akademik yang tidak memutus hubungan seorang pendidik dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan kesenian. Kontribusi dosen, menurutnya, tetap memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan seni melalui pemikiran dan nilai-nilai yang telah diwariskan.
“Purna bakti menandai selesainya masa pengabdian formal, tetapi karya, pemikiran, dan nilai-nilai yang telah diwariskan akan terus menjadi bagian dari perjalanan FSRD ISI Yogyakarta. Pengaruh seorang pendidik akan tetap hidup melalui mahasiswa, alumni, kolega, dan generasi yang meneruskan pengetahuan tersebut,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pameran ini menjadi salah satu upaya FSRD ISI Yogyakarta dalam menjaga kesinambungan sejarah dan perjalanan intelektual institusi. Pengalaman para dosen senior merupakan bagian penting dari perkembangan pendidikan seni yang perlu didokumentasikan, dipelajari, dan diwariskan agar dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Melalui penyelenggaraan pameran tersebut, FSRD ISI Yogyakarta juga memperlihatkan pentingnya membangun budaya akademik yang menghargai perjalanan pengabdian para pendidik. Apresiasi terhadap dosen purna bakti tidak hanya diwujudkan melalui penghormatan secara kelembagaan, tetapi juga melalui penyajian karya yang memungkinkan masyarakat mengenal kontribusi artistik dan pemikiran yang telah dihasilkan.
Ketua Pelaksana Pameran, Dyah Retno Fitriani, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa RESONANSI dirancang sebagai ruang pertemuan karya dan pemikiran lintas generasi. Pameran ini tidak semata-mata menampilkan perjalanan masa lalu, tetapi juga mempertemukan berbagai pengalaman artistik yang tumbuh dari hubungan pengajaran, penciptaan, dan kolaborasi.
“Kami tidak ingin pameran ini hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan masa lalu. ‘RESONANSI’ mempertemukan karya para dosen purna bakti dengan karya kolega seniman, sehingga jejak pengajaran, proses berkarya, dan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun dapat dibaca kembali secara lebih hidup,” jelasnya.
Menurut Dyah, keterlibatan para kolega seniman menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pameran. Kehadiran 19 karya dari kolega memperlihatkan luasnya hubungan kreatif yang terbentuk selama para dosen menjalankan pengabdian. Setiap karya menghadirkan pengalaman dan gagasan artistik yang berbeda, namun memiliki keterkaitan dengan perjalanan ketiga pendidik tersebut.
Pameran RESONANSI sekaligus memberikan gambaran mengenai karakter pendidikan seni yang tidak hanya bertumpu pada pembelajaran teori di ruang kuliah. Dalam praktiknya, transfer pengetahuan juga berlangsung melalui kegiatan studio, demonstrasi teknik, diskusi artistik, kritik karya, penelitian, serta pengalaman langsung dalam proses penciptaan.

Proses pembelajaran tersebut membentuk hubungan yang berkelanjutan antara pendidik dan peserta didik. Pengetahuan maupun pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat berkembang menjadi pendekatan artistik baru, praktik profesional, hingga metode pengajaran yang diterapkan kembali oleh para alumni ketika berkarya di tengah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pameran RESONANSI menjadi salah satu bentuk penyampaian sejarah pendidikan seni melalui karya. Pengunjung tidak hanya dapat mengamati hasil penciptaan para dosen purna bakti, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman akademik dan perjalanan kreatif memiliki hubungan dengan perkembangan praktik seni lintas generasi.
Pembukaan pameran turut dihadiri jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, seniman, serta tamu undangan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan dukungan lingkungan akademik dan komunitas seni terhadap kegiatan apresiasi yang diselenggarakan FSRD ISI Yogyakarta.
Selain menjadi bentuk penghormatan kepada para dosen purna bakti, kegiatan ini juga menghadirkan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal perjalanan penciptaan dan pemikiran para pendidik melalui karya yang ditampilkan. Pengalaman tersebut dapat memperluas pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara proses pendidikan, pengembangan kreativitas, dan keberlanjutan praktik kesenian.
Bagi ISI Yogyakarta, penyelenggaraan pameran seperti RESONANSI memiliki nilai penting dalam memperkuat budaya apresiasi di lingkungan perguruan tinggi seni. Karya dan pengetahuan yang dihasilkan selama masa pengabdian merupakan bagian dari kekayaan intelektual institusi yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni pada masa mendatang.

Kegiatan ini juga mencerminkan peran perguruan tinggi seni sebagai ruang yang mempertemukan berbagai generasi kreator, akademisi, dan masyarakat. Melalui pameran, pengalaman dan pemikiran artistik dapat disampaikan kepada publik sekaligus membuka kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih luas mengenai kontribusi pendidikan seni bagi kehidupan kebudayaan.
Pameran “RESONANSI: Gema Pengetahuan, Jejak Pengajaran” berlangsung hingga 15 Oktober 2026 di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta, dan terbuka bagi sivitas akademika maupun masyarakat umum. Kehadiran pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran sekaligus memperluas akses publik terhadap karya-karya seni yang lahir dari lingkungan akademik.
Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghargai kontribusi para pendidik, merawat warisan pengetahuan, serta menjaga kesinambungan pendidikan dan penciptaan seni. Pengabdian seorang dosen tidak hanya tercermin dari lamanya masa mengajar, tetapi juga dari pengaruh pengetahuan, karya, dan nilai-nilai yang terus berkembang melalui generasi penerus.
Pameran RESONANSI menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan seni tidak berhenti pada satu generasi. Gagasan yang lahir dari proses pengajaran akan terus menemukan bentuk baru melalui kreativitas mahasiswa, alumni, dan seniman, sekaligus memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kebudayaan Indonesia.






