Yogyakarta, 24 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyelenggarakan Wicara Seni bertajuk “Spektrum Estetika dalam Algoritma Pasca-Mesin” , sebagai bagian dari rangkaian program aktivasi Pameran Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan perspektif seniman, akademisi, kurator, dan publik untuk menelaah ulang hubungan antara kreativitas manusia dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Wicara seni ini diselenggarakan sebagai respons terhadap tema kuratorial pameran “Algoritma Pasca-Mesin: Resonansi Perasaan dalam Jaringan Biner”, yang mengajak publik melihat kembali posisi seni di tengah dunia yang semakin dipengaruhi oleh sistem algoritmik. Dalam konteks tersebut, seni dipahami tidak hanya sebagai praktik estetika, tetapi juga sebagai ruang refleksi kritis terhadap perubahan sosial, teknologi, dan kemanusiaan.
Kegiatan menghadirkan Anne Shakka, penulis dan dosen Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), serta Ni Putu Rahayu Sukma Dewi, peraih Karya Terbaik Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Karen Hardini, kurator, peneliti, dan penulis yang aktif mengkaji perkembangan seni kontemporer dan praktik kuratorial di Indonesia.
Dalam sesi pemaparannya, Ni Putu Rahayu Sukma Dewi berbagi pengalaman kreatif di balik karya yang memperoleh penghargaan terbaik pada pameran Dies Natalis tahun ini. Melalui paparannya, ia mengulas proses penciptaan karya, eksplorasi gagasan artistik, serta pandangannya mengenai posisi seniman dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi cara manusia memproduksi dan mengonsumsi visual.

Sementara itu, Anne Shakka memberikan tanggapan terhadap kerangka kuratorial pameran dan berbagai karya yang ditampilkan. Dengan perspektif humanitas digital, ia mengajak peserta memahami bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga membentuk cara manusia memahami identitas, pengalaman, pengetahuan, dan estetika.
Diskusi berkembang pada berbagai pertanyaan mendasar mengenai relasi antara manusia dan mesin. Sejauh mana kecerdasan buatan dapat berperan dalam proses kreatif? Apakah teknologi memperluas kemungkinan artistik atau justru menggeser pengalaman manusia dalam berkarya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik temu antara praktik seni, kajian humanitas, dan perkembangan teknologi kontemporer.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu mengenai AI dan seni telah menjadi perhatian penting bagi generasi muda kreatif. Melalui forum ini, peserta memperoleh kesempatan untuk mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang yang muncul ketika teknologi semakin terlibat dalam proses penciptaan karya seni.
Bagi ISI Yogyakarta, penyelenggaraan wicara seni ini merupakan bagian dari upaya memperkuat fungsi kampus seni sebagai ruang produksi pengetahuan yang terbuka terhadap perkembangan zaman sekaligus kritis terhadap implikasi sosial dan kemanusiaannya. Melalui dialog lintas disiplin, kampus berupaya menghadirkan diskursus yang tidak hanya relevan bagi dunia seni, tetapi juga bagi masyarakat yang hidup di tengah transformasi digital.
Melalui Wicara Seni “Spektrum Estetika dalam Algoritma Pasca-Mesin”, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang perjumpaan antara praktik artistik, pemikiran kritis, dan perkembangan teknologi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya merawat peran seni sebagai medium refleksi, dialog, dan pencarian makna di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.







