Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Berkolaborasi dengan UPI, UGM, dan UNY Gelar Seminar Nasional Pendidikan Seni dan Literasi Budaya

ISI Yogyakarta Berkolaborasi dengan UPI, UGM, dan UNY Gelar Seminar Nasional Pendidikan Seni dan Literasi Budaya

Yogyakarta, 8 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni terkemuka melalui kolaborasi akademik lintas kampus dalam Seminar Nasional bertema “Pendidikan Seni, Literasi Budaya, dan Politik Representasi dalam Ekosistem Kreatif Kontemporer.” Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan ISI Yogyakarta pada Rabu, 10 Juni 2026, pukul 08.00–15.00 WIB, bertempat di Ruang Auditorium Lantai 5 Sekolah Pascasarjana UGM.

Seminar nasional ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan perspektif pendidikan seni, kajian budaya, sejarah, representasi visual, serta dinamika ekosistem kreatif kontemporer. Melalui forum tersebut, ISI Yogyakarta turut menegaskan komitmennya dalam pengembangan keilmuan seni yang tidak hanya berorientasi pada praktik penciptaan, tetapi juga pada penguatan wacana akademik, literasi budaya, dan kontribusi seni dalam membaca perubahan sosial.

Keterlibatan ISI Yogyakarta dalam seminar ini memiliki arti penting bagi penguatan jejaring akademik antarlembaga pendidikan tinggi. Kolaborasi bersama UPI, UGM, dan UNY menunjukkan bahwa kajian seni dan budaya memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman kritis terhadap perkembangan masyarakat, identitas, kreativitas, serta politik representasi di era kontemporer.

Seminar ini menghadirkan sejumlah akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang. Para narasumber dan pembahas yang terlibat antara lain Prof. Dr. Kun Setyaning Astuti, M.Pd.; Dr. Sri Margana, M.Phil.; Dr. Mikke Susanto, M.A.; Dr. Yanti Heriyawati, S.Pd., M.Hum.; Dr. Sn. Muh. Fajar Apriyanto, M.Sn.; Dr. G.R. Lono Simatupang, M.A.; Dr. Titik Putriningsih, S.Sn., M.Hum.; R. Dian Munroh, M.Hum., Ph.D.; Rizki Risandi, S.Pd., M.Pd.; Supriando, S.Sn., M.Sn.; Theresia A. Sitompul, S.Sn., M.Sn.; serta Enri Johan Jauhari, M.Pd. Jalannya seminar dipandu oleh Dr. Trisna Pradita Putra, M.M. dan Fensy Sella, M.Pd. sebagai moderator.

Tema yang diangkat dalam seminar ini relevan dengan perkembangan dunia seni, pendidikan, dan industri kreatif saat ini. Pendidikan seni tidak lagi dipahami semata sebagai proses pewarisan keterampilan artistik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan cara pandang, kepekaan budaya, kemampuan membaca simbol, serta kesadaran kritis terhadap representasi dalam masyarakat. Dalam konteks tersebut, literasi budaya menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana karya seni, media, visualitas, dan praktik kreatif membentuk narasi sosial dan identitas kolektif.

Bagi ISI Yogyakarta, forum ini menjadi momentum untuk memperluas kontribusi keilmuan seni dalam percakapan akademik nasional. Sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang memiliki mandat dalam pengembangan seni, budaya, dan kreativitas, ISI Yogyakarta terus mendorong integrasi antara pendidikan, penelitian, penciptaan karya, dan pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan dalam seminar nasional lintas perguruan tinggi ini juga mencerminkan posisi ISI Yogyakarta sebagai pusat pengembangan pengetahuan seni yang terbuka terhadap kerja sama interdisipliner.

Kolaborasi dengan UPI, UGM, dan UNY juga memperlihatkan pentingnya sinergi antarkampus dalam merespons tantangan ekosistem kreatif kontemporer. Perkembangan teknologi, perubahan pola konsumsi budaya, dinamika media sosial, serta pertumbuhan industri kreatif menuntut perguruan tinggi untuk menghadirkan kajian yang lebih adaptif, kritis, dan berdampak. Melalui seminar ini, seni ditempatkan sebagai bidang keilmuan yang memiliki kapasitas untuk membaca, mengkritisi, sekaligus menawarkan perspektif baru terhadap perubahan zaman.

Selain memperkuat reputasi akademik, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan seni yang lebih luas. Kehadiran para akademisi dan praktisi dari berbagai institusi membuka peluang dialog, pertukaran gagasan, serta kemungkinan kerja sama lanjutan dalam bidang pendidikan, riset, publikasi, kurikulum, maupun penciptaan karya seni berbasis kajian budaya.

Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, ISI Yogyakarta menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan seniman, desainer, peneliti, dan pelaku kreatif, tetapi juga aktif membangun wacana akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi lintas institusi, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisi sebagai kampus seni yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, dan pembentukan ekosistem kreatif Indonesia yang berdaya saing.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID