Yogyakarta, 16 Februari 2026 — Suasana hangat penuh refleksi dan kebersamaan mewarnai peringatan Hari Lahir ke-76 Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta. Mengusung tema “Art Connectivity”, peringatan ini menjadi momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran seni sebagai penghubung lintas generasi, gagasan, dan jejaring global.
Sebagai institusi yang berakar dari sejarah panjang Akademi Seni Rupa Indonesia, FSRD ISI Yogyakarta menghadirkan rangkaian kegiatan yang sarat makna. Peringatan diawali dengan agenda anjangsana ke kediaman para purnatugas. Kegiatan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan ruang penghormatan atas dedikasi para pendahulu yang telah membangun fondasi kuat pendidikan seni rupa di Indonesia.
Rangkaian dilanjutkan dengan ziarah ke makam para tokoh pendiri ASRI. Sivitas akademika bersama pimpinan fakultas menundukkan kepala, mengenang semangat perjuangan yang sejak 1950 telah mengukir sejarah perjalanan seni rupa nasional. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa inovasi dan kemajuan selalu berakar pada nilai dan visi para pendiri.


Puncak peringatan berlangsung di Gedung Ajiyasa FSRD ISI Yogyakarta melalui seremoni yang menghadirkan dosen, alumni, mahasiswa, serta purnatugas. Dalam forum tersebut, para alumni dan akademisi berbagi refleksi tentang dinamika seni rupa kontemporer serta pentingnya konektivitas—baik dalam praktik artistik, kolaborasi lintas disiplin, maupun penguatan jejaring internasional.
Sebagai simbol kesinambungan estafet kreativitas, prosesi pemotongan tumpeng dilakukan dan diserahkan secara simbolis dari perwakilan dosen tertua kepada dosen termuda. Momen ini menegaskan bahwa semangat berkarya dan dedikasi akademik terus berlanjut dari generasi ke generasi.
Bagi Institut Seni Indonesia Yogyakarta, peringatan 76 tahun ASRI bukan sekadar seremoni historis, tetapi juga refleksi komitmen untuk terus memperkuat ekosistem seni rupa yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas bagi masyarakat. Melalui semangat Art Connectivity, FSRD ISI Yogyakarta menegaskan posisinya sebagai pusat pendidikan seni rupa yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga aktif membangun jejaring kreatif di tingkat nasional dan global.
Peringatan ini sekaligus menjadi penanda bahwa warisan ASRI tetap hidup—tidak hanya sebagai sejarah, melainkan sebagai energi penggerak masa depan seni rupa Indonesia.







