Yogyakarta, 16 Oktober 2026 — Kepakaran akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam bidang perfilman dan komunikasi visual kembali berkontribusi pada pengembangan literasi seni di lingkungan perguruan tinggi. Dua dosen ISI Yogyakarta, Dr. Lucia Ratnaningdyah Setyowati, S.I.P., M.A., dari Program Studi Film dan Televisi, serta Debby Dwi Elsha, S.I.Kom., M.A., dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, menjadi pemateri dalam kegiatan Workshop Sinema Digital: Penulisan Kritik Film yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia (UII).
Keterlibatan kedua akademisi tersebut memperlihatkan kontribusi keilmuan ISI Yogyakarta dalam memperluas pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap film sebagai karya seni yang memiliki dimensi estetika, naratif, dan komunikasi. Melalui workshop ini, peserta diajak mengembangkan kemampuan membaca bahasa visual sekaligus menyampaikan kritik film secara analitis, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan media digital.
Dalam pemaparannya, Lucia Ratnaningdyah Setyowati mengulas peran mise-en-scène sebagai salah satu unsur penting komunikasi nonverbal dalam film. Ia mengajak peserta memahami bagaimana berbagai elemen visual yang dirancang sineas tidak hanya berfungsi memperkuat penyajian cerita, tetapi juga membangun makna dan menyampaikan pesan kepada penonton. Pemahaman tersebut menjadi landasan penting dalam mengembangkan kemampuan apresiasi dan analisis karya audiovisual.
Sementara itu, Debby Dwi Elsha memberikan pendampingan dalam penyusunan naskah kritik film yang efektif, ringkas, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Melalui pendekatan komunikasi visual dan penulisan untuk media digital, peserta diarahkan untuk mengolah hasil pengamatan serta penafsiran film menjadi tulisan kritik yang memiliki kejelasan gagasan dan daya jangkau lebih luas.
Hasil penulisan kritik film peserta selanjutnya dipublikasikan melalui Instagram. Pemanfaatan platform digital ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan praktik apresiasi sinema dengan pola komunikasi masyarakat masa kini, sekaligus membuka ruang penyebarluasan gagasan kritis mengenai karya film kepada khalayak yang lebih luas.
Workshop tersebut diselenggarakan oleh Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (KAFEIN) bersama Komunitas Pilem Orang Komunikasi (Kompor.KOM), komunitas mahasiswa pecinta film UII, bertempat di Laboratorium Audio Visual, Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Kegiatan ini merupakan seri keempat dari rangkaian Workshop Sinema Digital yang mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Dana Indonesiana.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran dua film pendek, yaitu 1000 Dinar karya Syarwani Muhammad dan Serantang Rendang karya Fidelia Dahayu serta Muharram Dwi Rahman. Setelah pemutaran, peserta mengikuti diskusi bersama Fidelia Dahayu untuk mendalami pengalaman dan proses kreatif di balik produksi film.
Selain menghadirkan dua dosen ISI Yogyakarta, kegiatan ini juga melibatkan Citra Dewi Utami dari ISI Surakarta. Dalam sesinya, Citra mengajak peserta memahami keterkaitan antara unsur naratif dan sinematik dalam membentuk pengalaman menonton.
“Menonton film secara mendalam berarti tidak hanya mengikuti cerita, tetapi juga mengamati bagaimana cerita dibangun dan disampaikan melalui unsur-unsur sinematik,” ujarnya.
Ketua KAFEIN, Dyna Herlina S., mengapresiasi antusiasme mahasiswa UII dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, praktik kritik film dapat menjadi sarana untuk mengembangkan minat menonton menjadi kemampuan analisis yang lebih mendalam. Sementara itu, Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi UII, Zaki Habibi, menyambut positif penyelenggaraan workshop dan berharap mahasiswa semakin aktif menghasilkan karya, termasuk melalui kompetisi kritik film.
Partisipasi dosen ISI Yogyakarta dalam kegiatan ini mencerminkan peran perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga pada pengembangan pengetahuan, apresiasi, dan wacana kritis di bidang seni. Keahlian dalam kajian film dan desain komunikasi visual menjadi kontribusi penting dalam membangun ekosistem literasi sinema yang lebih terbuka dan mampu menjangkau masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital.
Melalui keterlibatan akademisinya dalam forum pembelajaran lintas perguruan tinggi, ISI Yogyakarta terus menunjukkan kapasitas keilmuannya sebagai perguruan tinggi seni yang berkontribusi pada pengembangan pendidikan, pemikiran kritis, dan budaya apresiasi seni di Indonesia.







