Melalui kerja kuratorial, penulisan monograf, dan dua forum publik di Surabaya, dosen FSRD ISI Yogyakarta menghadirkan praktik pengetahuan seni dari kampus ke ruang publik.
Materi publikasi program “Step by Step Karir Seni” dan “Bedah Lukisan” dalam rangkaian Pameran Tunggal Lukisan SBY di Voza Tower, Surabaya. Dokumentasi: materi publikasi penyelenggara.
SURABAYA — Kiprah akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali hadir dalam ruang seni rupa nasional. Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., dosen Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta, mengambil peran dalam Pameran Tunggal Lukisan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertajuk “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya” yang berlangsung di Voza Tower Lantai 25, Surabaya, 16–29 September 2026.
Dalam pameran tersebut, Suwarno berperan sebagai kurator sekaligus penulis monograf “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono”. Keterlibatan itu mempertemukan praktik kuratorial, kritik seni, penulisan, dan pendidikan seni dalam satu peristiwa publik yang memperluas percakapan mengenai karya seni di luar ruang akademik.
Pada Jumat, 25 September 2026, Suwarno juga mengisi dua program publik, yakni “Step by Step Karir Seni” pada pukul 13.00–15.00 WIB dan “Bedah Lukisan” pada pukul 15.00–17.00 WIB. Kedua sesi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai perjalanan profesional di bidang seni serta pembacaan terhadap karya-karya yang hadir dalam pameran.
Pameran “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya” menampilkan lebih dari 77 koleksi lukisan menurut laman resmi penyelenggara. Sejumlah media melaporkan jumlah karya yang lebih besar, antara 95 hingga sekitar 100 karya. Untuk kepentingan ketepatan data, ISI Yogyakarta merujuk pada informasi resmi penyelenggara yang menyebut “lebih dari 77 koleksi lukisan”.




Kerja kuratorial Suwarno mengelompokkan karya-karya SBY ke dalam tiga kecenderungan utama: Lanskap Memori, Lanskap Sosial-Politik, dan Lanskap Tatapan Langsung atau On the Spot. Pengelompokan tersebut menjadi perangkat untuk membaca hubungan antara pengalaman personal, perhatian terhadap persoalan sosial, dan pengamatan langsung terhadap alam dalam praktik melukis SBY.
Pembacaan itu juga dikembangkan dalam monograf setebal 132 halaman yang diterbitkan The Yudhoyono Institute pada September 2026. Buku tersebut memuat proses kreatif SBY, tiga kecenderungan utama karya, serta wawancara panjang antara penulis dan SBY. Dengan demikian, pameran tidak hanya menghadirkan objek visual, tetapi juga menyediakan konteks pengetahuan yang membantu publik memahami proses, latar, dan gagasan di balik karya.
Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan Suwarno menunjukkan bagaimana kompetensi akademik seni dapat bekerja secara langsung dalam ekosistem profesional. Pengetahuan yang dikembangkan melalui pendidikan tinggi seni hadir dalam praktik kuratorial, penulisan, kritik, pengarsipan, dan dialog dengan publik. Peran semacam ini memperlihatkan bahwa kontribusi perguruan tinggi seni tidak berhenti pada proses pembelajaran di kelas, tetapi turut membentuk cara karya seni dibaca, didokumentasikan, dan ditempatkan dalam percakapan kebudayaan.
Suwarno tercatat sebagai Lektor Kepala pada Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta dengan kelompok keilmuan Seni Grafis. Ia telah lama aktif sebagai akademisi, kritikus, penulis, dan kurator. Pada 2026, ISI Yogyakarta juga mendokumentasikan jejak 45 tahun pemikirannya melalui buku “Rest Area: Titik Lebur Estetik, Esai-Esai 45 Tahun (1980–2025)”, yang memperlihatkan kesinambungan kerja intelektualnya dalam seni rupa Indonesia.
Keterlibatan Suwarno Wisetrotomo dalam Pameran Tunggal Lukisan SBY di Surabaya menegaskan salah satu karakter ISI Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang menghubungkan pendidikan, praktik profesional, dan produksi pengetahuan. Melalui kiprah dosen dan akademisinya, pengetahuan seni dari kampus terus bergerak ke ruang publik, memperluas literasi seni, dan memperkuat ekosistem kebudayaan Indonesia.





