Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

PISN ISI Yogyakarta 2026 Kembangkan Model Teater Imersif Berbasis Budaya Nusantara dan Teknologi Multimedia

PISN ISI Yogyakarta 2026 Kembangkan Model Teater Imersif Berbasis Budaya Nusantara dan Teknologi Multimedia

Yogyakarta, 21 September 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 mengembangkan model pertunjukan teater imersif bersama kelompok IB Creative Art di Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Yogyakarta. Program bertajuk “Pengembangan Model Teater Imersif untuk Kelompok IB Creative Art” tersebut memadukan riset budaya, penciptaan seni pertunjukan, partisipasi penonton, serta pemanfaatan teknologi multimedia.

Pengembangan karya berangkat dari riset mengenai Kipo, jajanan tradisional khas Kotagede yang memiliki jejak sejarah dalam kehidupan masyarakat kawasan bekas pusat Kesultanan Mataram Islam. Kekayaan budaya tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai objek cerita, tetapi menjadi landasan dalam penyusunan dramaturgi, penciptaan ruang pertunjukan, hingga pengembangan pengalaman multisensori bagi penonton.

Proses penciptaan dilakukan secara bertahap melalui riset partisipatoris, pendampingan penulisan naskah, eksplorasi ruang, penataan artistik, simulasi adegan, serta pengembangan teknologi video mapping dan interactive lighting. Riset lapangan antara lain dilakukan di Intro Living Museum Kotagede dengan menggali pengetahuan mengenai Kipo sebagai bahan penguatan gagasan dan penyusunan cerita. Rangkaian pelatihan dan pendampingan berlangsung sejak Mei 2026 dan diarahkan menuju gladi bersih serta pementasan pada September 2026.

Berbeda dengan pola pertunjukan konvensional, model teater imersif yang dikembangkan menempatkan penonton sebagai bagian dari pengalaman dramatik. Partisipan diajak memasuki dunia cerita melalui perpaduan ruang, gerak, cahaya, visual, suara, serta berbagai elemen sensorik. Dengan pendekatan tersebut, batas antara ruang pertunjukan dan ruang penonton menjadi lebih cair.

Teknologi juga menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan karya. Video mapping dimanfaatkan untuk membangun atmosfer sekaligus memperluas kemungkinan visual dalam penciptaan dunia cerita. Sementara itu, interactive lighting dirancang untuk membentuk zona pertunjukan, mengarahkan perjalanan partisipan, serta mendukung perubahan suasana dan pengalaman emosional di dalam ruang pertunjukan.

Program ini sekaligus memperkuat kapasitas IB Creative Art, kelompok teater kontemporer yang telah berkarya selama sekitar 12 tahun dengan memadukan teater, tari, musik, dan multimedia. Pendampingan diarahkan agar mitra tidak hanya mampu menghasilkan pertunjukan, tetapi juga mengembangkan riset sebagai fondasi penciptaan, menulis naskah teater imersif, merancang dramaturgi spasial, serta memanfaatkan teknologi pertunjukan secara lebih terstruktur.

Kolaborasi tersebut melibatkan dosen, mahasiswa, dan praktisi seni sehingga proses transfer pengetahuan berlangsung langsung di dalam praktik penciptaan. Tim pelaksana diketuai oleh Fitri Rahmah, S.Sn., M.Sn., dengan anggota dosen Elara Karla Nugraeni, M.Sn. dan Mega Sheli Bastiani, M.Sn. Mahasiswa yang terlibat yaitu Adinda Yoni Hardianti, Muhammad Raisa Albany, dan Belmiro Afrillyo Dwisasmito.

Keterlibatan mahasiswa dalam proses riset dan penciptaan memberikan pengalaman pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan praktik artistik di masyarakat. Pada saat yang sama, kemitraan dengan kelompok seni membuka ruang pertukaran pengetahuan antara perguruan tinggi dan pelaku seni, sehingga inovasi yang dikembangkan memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan praktik pertunjukan.

Melalui PISN 2026, ISI Yogyakarta memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi seni dapat mempertemukan riset budaya, teknologi, penciptaan artistik, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem kerja kreatif. Pendekatan tersebut juga membuka kemungkinan baru dalam pengembangan seni pertunjukan Indonesia yang tetap berpijak pada kekayaan budaya Nusantara sekaligus responsif terhadap perkembangan teknologi dan praktik seni kontemporer.

Program ini menegaskan bahwa tradisi tidak harus berhenti sebagai warisan yang dikenang. Di tangan para akademisi, mahasiswa, dan seniman, tradisi dapat menjadi sumber penciptaan yang terus berkembang melalui bahasa artistik baru. Tradisi menjadi titik berangkat. Ruang, teknologi, dan partisipasi menjadi cara untuk menghidupkannya kembali.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan