Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

“Tonggak: Ziarah II” Hidupkan Jejak ASRI, Teguhkan ISI Yogyakarta sebagai Poros Pendidikan Seni Rupa Indonesia

“Tonggak: Ziarah II” Hidupkan Jejak ASRI, Teguhkan ISI Yogyakarta sebagai Poros Pendidikan Seni Rupa Indonesia

Yogyakarta, 18 Agustus 2026 — Jejak panjang pendidikan seni rupa Indonesia kembali dihadirkan ke ruang publik melalui pameran seni rupa dan arsip “Tonggak: Ziarah II – Suara Arsip” di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Dibuka pada Senin, 17 Agustus 2026, pameran ini tidak hanya mempertemukan publik dengan karya para maestro, tetapi sekaligus membuka kembali salah satu babak penting sejarah yang berkelindan erat dengan lahir dan berkembangnya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pameran yang mengusung semangat “Menengok Kembali Jejak yang Pernah Ada” tersebut dikuratori oleh Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., akademisi, kritikus, dan kurator seni rupa yang hingga kini tercatat sebagai dosen Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta. Pameran dibuka oleh KPH Wironegoro dari Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara bersama Suwarno Wisetrotomo.

Keterkaitan pameran ini dengan ISI Yogyakarta menjadi semakin kuat karena Jogja National Museum berdiri di kawasan bekas Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Gampingan. Kompleks tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Fakultas Seni Rupa sebelum kegiatan pendidikan ISI Yogyakarta berpindah ke kampus terpadu di Sewon, Bantul. Dengan demikian, penyelenggaraan “Tonggak: Ziarah II” berlangsung bukan semata di sebuah ruang pamer, tetapi di sebuah situs yang pernah menjadi ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan melahirkan generasi penting seni rupa Indonesia.

ASRI sendiri diresmikan pada 15 Januari 1950 di Yogyakarta dengan R.J. Katamsi sebagai direktur. Lembaga tersebut tumbuh menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) dan pada 1984 menjadi bagian dari ISI Yogyakarta. Sejarah panjang ini menjadikan ASRI salah satu fondasi penting pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia dan menjadi akar kelembagaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta saat ini.

Dalam “Tonggak: Ziarah II”, publik dapat kembali berhadapan dengan nama-nama yang membentuk sejarah seni rupa Indonesia, antara lain Affandi, Bagong Kussudiardja, Danarto, Djoko Pekik, Fadjar Sidik, G. Sidharta, Kustiyah, Nasirun, R.J. Katamsi, S. Sudjojono, Sapto Hoedojo, Trubus S., Wardoyo, Widayat, serta sejumlah perupa lainnya. Sebagian nama dalam pameran tersebut mempunyai hubungan langsung dengan sejarah ASRI, baik sebagai pendiri, pengajar, siswa, maupun bagian dari lingkungan intelektual dan artistik yang berkembang di sekitarnya.

Jejak tersebut bukan sekadar hubungan simbolik. Dokumentasi sejarah ISI Yogyakarta mencatat R.J. Katamsi sebagai direktur pertama ASRI. Sementara Fadjar Sidik, G. Sidharta Soegijo, Saptohoedojo, Trubus Soedarsono, Wardoyo, dan Widayat termasuk dalam deretan tokoh yang pernah ditampilkan ISI Yogyakarta sebagai pendiri, pembangun, maupun figur penting dalam perjalanan ASRI. Djoko Pekik juga tercatat menempuh pendidikan di ASRI sejak 1957.

Karena itu, “Suara Arsip” mendapatkan relevansi yang lebih luas. Arsip tidak ditempatkan hanya sebagai bukti tentang sesuatu yang telah selesai, tetapi menjadi medium untuk membaca bagaimana pengetahuan seni dibangun, diwariskan, diperdebatkan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Karya seni, fotografi, dokumen, tulisan, dan artefak sejarah bertemu menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan masa lalu dengan praktik seni rupa hari ini.

Perspektif tersebut sejalan dengan peran pendidikan tinggi seni: bukan sekadar menghasilkan seniman, tetapi juga merawat pengetahuan, membangun kritik, melakukan penelitian, mengembangkan praktik kuratorial, serta memastikan sejarah kebudayaan tetap dapat dibaca oleh generasi berikutnya. Dalam konteks ini, keberadaan ISI Yogyakarta memperoleh arti penting sebagai institusi yang mewarisi sekaligus mengembangkan ekosistem yang dahulu dibangun melalui ASRI.

Peran Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator juga memperlihatkan kesinambungan tersebut. Selain aktif sebagai akademisi ISI Yogyakarta, ia telah lama berkecimpung dalam kritik, penulisan, dan kuratorial seni rupa Indonesia. Pada 2024 ia menerima Lifetime Achievement Award dari Nandur Srawung, Taman Budaya Yogyakarta, dan Dinas Kebudayaan DIY. Pada 2026, kiprah kuratorialnya antara lain kembali terlihat melalui Pameran TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia.

“Tonggak: Ziarah II” juga melanjutkan perjalanan “Tonggak: Ziarah #1” yang diselenggarakan JNM pada 2025. Pada edisi pertama, pameran menghadirkan karya para perintis yang pernah belajar, mengajar, dan membangun ekosistem seni di lingkungan ASRI dan Yogyakarta. Seri pameran ini kemudian berkembang menjadi upaya berkelanjutan untuk menziarahi akar seni rupa Indonesia sekaligus membawa sejarah tersebut kembali ke tengah masyarakat.

Bagi ISI Yogyakarta, hadirnya kembali sejarah ASRI dalam ruang kebudayaan publik memperlihatkan bahwa warisan sebuah perguruan tinggi seni tidak hanya tersimpan dalam catatan institusi. Warisan itu hidup melalui seniman, karya, pemikiran, metode pendidikan, praktik kuratorial, alumni, serta jaringan kebudayaan yang berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di titik inilah “Tonggak: Ziarah II” menjadi penting. Pameran tersebut mempertemukan sejarah kelembagaan dengan perkembangan seni rupa Indonesia masa kini. Kompleks Gampingan yang dahulu menjadi tempat para seniman belajar dan membangun gagasan kini kembali menjadi ruang untuk membaca karya dan arsip mereka. Sementara ISI Yogyakarta, sebagai penerus perjalanan panjang tersebut, terus mengembangkan pendidikan, penciptaan, penelitian, dan pemikiran seni sesuai tantangan zaman.

Kesinambungan ASRI–STSRI–ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa kontribusi sebuah perguruan tinggi seni tidak dapat diukur hanya dari aktivitas akademik yang berlangsung hari ini. Jejaknya terbaca dari tokoh-tokoh yang dilahirkan, pengetahuan yang diwariskan, pemikiran yang diperdebatkan, dan pengaruh yang terus bekerja dalam perkembangan kebudayaan Indonesia.

Pameran “Tonggak: Ziarah II – Suara Arsip” berlangsung di Ruang Pamer A dan B Jogja National Museum, Yogyakarta, pada 17 Agustus–17 November 2026, dengan waktu kunjungan pukul 10.00–21.00 WIB.

Dari Gampingan hingga Sewon, perjalanan itu terus berlanjut. Sejarah yang pernah dibangun ASRI kini menjadi bagian dari modal pengetahuan ISI Yogyakarta untuk terus mengambil peran strategis dalam pendidikan, penciptaan, penelitian, pelestarian, dan pengembangan seni Indonesia.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini