Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

“Art Thinking” Perkuat Peran ISI Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan dan Wacana Seni Internasional

“Art Thinking” Perkuat Peran ISI Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan dan Wacana Seni Internasional

Yogyakarta, 29 Juli 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Program Studi S-1 Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), memperkuat ruang dialog internasional mengenai perkembangan ekosistem seni kontemporer melalui Seminar Akademik Internasional bertajuk “Art Thinking: Young Artists in Art Events and Networks”. Kegiatan berlangsung di Gedung Ajiyasa Lantai 2, FSRD ISI Yogyakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

Seminar mempertemukan akademisi, mahasiswa, alumni, dan praktisi seni untuk membahas posisi serta tantangan seniman muda di tengah ekosistem seni yang semakin terbuka dan terkoneksi secara global. Perkembangan pameran, festival, program residensi, komunitas, media sosial, hingga jejaring profesional menjadi perhatian utama karena memiliki peran penting dalam membentuk praktik artistik sekaligus keberlanjutan karier generasi baru seniman.

Forum internasional tersebut menghadirkan empat pembicara dari tiga negara, yaitu Ang Xia Yi dari Malaysia, Alisa Chunchue dari Thailand, serta Alif Edi Irmawan dan Oberlan Luna dari Indonesia. Kehadiran para pembicara dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam membuka ruang pertukaran perspektif mengenai perkembangan seni kontemporer dan pentingnya jejaring bagi seniman muda.

Diskusi menempatkan kegiatan seni kontemporer tidak lagi semata-mata sebagai ruang untuk mempresentasikan karya. Pameran dan berbagai perhelatan seni kini berkembang menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan terjadinya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, negosiasi gagasan, sekaligus pembentukan ekosistem seni yang lebih luas.

Dokumentasi Humas FSRD ISI Yogyakarta
Dokumentasi Humas FSRD ISI Yogyakarta

Pembahasan juga menyoroti pentingnya pendidikan dan profesionalisme dalam penyelenggaraan maupun keterlibatan seniman di berbagai kegiatan seni. Jejaring artistik dinilai memiliki posisi penting dalam membuka peluang kolaborasi dan mobilitas seniman, serta memengaruhi bagaimana pengetahuan artistik diproduksi, dipertukarkan, dan memperoleh pengakuan di tengah perkembangan dunia seni kontemporer.

Seminar ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun dialog antara lingkungan akademik dan praktik profesional. Pertemuan antara dosen, mahasiswa, alumni, cendekiawan, praktisi, dan pembicara internasional memperkuat Art Thinking sebagai platform akademik yang menghubungkan praktik penciptaan seni dengan pemikiran dan refleksi kritis.

Penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi kedua dari platform seminar tahunan Art Thinking dan berlangsung sejalan dengan semangat ARTJOG 2026 bertema “Ars Longa Trilogia – Generatio”, yang turut memberikan konteks terhadap pembicaraan mengenai generasi baru dan dinamika ekosistem seni.

Melalui forum internasional tersebut, ISI Yogyakarta terus mendorong lingkungan pendidikan seni yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan artistik, tetapi juga membangun kemampuan mahasiswa dan seniman muda untuk membaca perkembangan ekosistem seni, memperluas jejaring, serta terlibat dalam pertukaran gagasan di tingkat regional dan internasional.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Program Studi S-1 Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta dalam mengembangkan pendidikan seni yang menempatkan praktik artistik, pemikiran kritis, dan jejaring sebagai bagian yang saling terhubung, serta memandang seni sebagai salah satu katalisator transformasi masyarakat.

Dokumentasi Humas FSRD ISI Yogyakarta
Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID