Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Artist Residency Workshop Series: Merawat Tradisi, Membuka Ruang Menuju Panggung Internasional

Artist Residency Workshop Series: Merawat Tradisi, Membuka Ruang Menuju Panggung Internasional

Yogyakarta, 27 Juli 2026 – Tradisi bukan tembok yang membatasi, tradisi adalah fondasi dalam membangun diplomasi budaya yang mampu menghubungkan leluhur, ingatan, dan identitas. Melalui karya seni tradisi, kita tidak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga merawat memori budaya
Keyakinan itulah yang menjadi nafas dari Artist Residency Workshop Series, sebuah program kolaborasi seniman lintas negara yang dihadirkan oleh Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersama Project Eleven Indonesia. Program masterclass ini dihadirkan sebagai ruang untuk menjawab pertanyaan ‘mungkinkah tradisi yang kita rawat menjadi jembatan menuju panggung dunia?’
Program masterclass ini berlangsung selama lima hari penuh, 27–31 Juli 2026, di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta pada pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB. Melalui workshop intensif selama 5 hari, diskusi terbuka, serta sesi berbagi pengalaman yang hangat, peserta yang dalam hal ini adalah dosen dan mahasiswa/i di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan didorong untuk mengalami praktik artistik, strategi kolaborasi internasional, hingga pengelolaan karya seni yang relevan dengan dinamika industri kreatif global tanpa kehilangan marwah tradisinya.
Workshop residensi artis kali ini terasa istimewa karena menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang saling melengkapi. Pertama adalah, Mr. John-Cheong Holdaway atau yang kerap dikenal sebagai Mas John yang terbang dari Australia membawa pengalaman bertahun-tahun sebagai ekonom, musisi, creative producer, serta arts leader yang tentu memiliki pengalaman menghubungkan budaya, sejarah, serta manusia melampaui batas negara.


Kedua adalah Ibu Dewi Bukit, yaitu seorang fotografer, seniman, peneliti, trainer, sekaligus Director Project Eleven Indonesia yang telah ratusan kali memperoleh grant atau pendanaan baik dari Indonesia maupun luar negeri. Ibu Dewi Bukit hadir dengan perspektif yang berakar pada riset dan komunitas lokal, namun praktiknya yang kuat mampu menembus batas antar negara, dan ini yang dibutuhkan oleh akademisi serta mahasiswa di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Dan yang ketiga adalah Mas Abdi Karya, seniman pertunjukan, peneliti budaya, sekaligus Managing Director Prolog Ecosystem yang berasal dari tanah Makasar namun karyanya sudah terkenal sampai mancanegara. Sama halnya dengan Ibu Dewi Bukit, Mas Abdi akan mengajak peserta untuk mulai membangun ekosistem seni yang berakar dari sejarah, lokalitas, serta objek terdekat yang ada di sekitar kita.


Ketiganya, baik John Cheong-Holdaway, Dewi Bukit, Abdi Karya datang dengan cerita yang berbeda. Tapi, mereka bicara tentang hal yang sama: bahwa seni Indonesia bukan hanya layak, tapi sudah seharusnya ada di panggung internasional.
Melalui kegiatan ini, FSP ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jejaring internasional serta menciptakan ruang kolaboratif yang mendukung lahirnya seniman-seniman Indonesia yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi, komunitas seni, dan mitra internasional diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat posisi seni Indonesia di panggung dunia tanpa meninggalkan akar tradisi dan identitas budayanya.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID