Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

IDEF 2026 Hadirkan Tiga Hari Pertunjukan Musik Lintas Tradisi dan Negara di ISI Yogyakarta

IDEF 2026 Hadirkan Tiga Hari Pertunjukan Musik Lintas Tradisi dan Negara di ISI Yogyakarta

Yogyakarta, 21 Juli 2026 — Institut Seni Indonesia Yogyakarta akan menjadi ruang pertemuan beragam tradisi, ekspresi, dan eksplorasi bunyi melalui International Djogja Earthsounds Fest (IDEF) 2026 yang berlangsung pada 23–25 Juli 2026. Mengusung tema “Sacred Sounds, Shared Earth”, festival ini menghadirkan puluhan musisi, kelompok seni, komunitas, serta institusi pendidikan seni dari berbagai daerah dan negara.

Pertunjukan IDEF 2026 akan dimulai setiap hari pada pukul 16.00 WIB di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Seluruh rangkaian pertunjukan terbuka untuk masyarakat dan dapat disaksikan secara gratis.

Hari pertama pada Kamis, 23 Juli 2026, akan menampilkan beragam kelompok dan musisi, antara lain Stingers, Cepi Irawan, Aprilia Mahfud, Sukotjo, Utthana, ISBI Kalimantan Timur, Krismus Purba, Sansenku, Biramanata, Petala Borneo, dan Wangak. Keragaman penampil tersebut memperlihatkan keluasan praktik musik yang akan dihadirkan, mulai dari ekspresi berbasis tradisi, musik kontemporer, hingga karya eksperimental.

Rangkaian hari kedua pada Jumat, 24 Juli 2026, dilanjutkan dengan penampilan A6 Ansamble, Wahyu Turonggo Naden, Rujit, Bara di Selatan, Warga Setempat atau Warset, Halo Terong, Kukuh Kudamai, Los Jantos, Sri Redjeki, Bullpart, The Cluts, dan Rastakrina. Susunan tersebut mempertemukan kelompok dengan latar musikal yang beragam dalam satu panggung pertunjukan.

Puncak rangkaian pada Sabtu, 25 Juli 2026, akan menghadirkan sejumlah nama dari dalam dan luar negeri. Mereka di antaranya Ambaran Ansambel PSPSR UGM, Patrol IKPMJ, Warsana, Universitas Negeri Makassar, Pakarti Karawitan, Rully Shabara, Thelonious Hamel dan Reuben Lewis, John Cheong, Iwung Nyalung ISBI Bandung, The Jebres ISI Surakarta, Dea Lunny Primamona, serta Kiai Kanjeng.

Kehadiran Thelonious Hamel, Reuben Lewis, dan John Cheong memberikan dimensi internasional dalam penyelenggaraan IDEF 2026. Pertemuan mereka dengan musisi, seniman, komunitas, dan institusi seni dari Indonesia membuka ruang pertukaran pengetahuan serta dialog kreatif mengenai perkembangan musik tradisi dan kontemporer.

Tema “Sacred Sounds, Shared Earth” menempatkan bunyi bukan hanya sebagai bentuk pertunjukan, tetapi juga sebagai medium untuk membaca hubungan manusia dengan kebudayaan, lingkungan, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Melalui pendekatan tersebut, IDEF 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan warisan tradisi dengan praktik penciptaan musik masa kini.

Penyelenggaraan festival ini sekaligus memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang aktif membangun ekosistem penciptaan, penelitian, pertunjukan, dan pertukaran gagasan. Kampus tidak hanya berperan sebagai tempat pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang terbuka bagi seniman, akademisi, komunitas, dan masyarakat untuk bertemu serta mengembangkan praktik seni secara bersama-sama.

Kolaborasi yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan kelompok seni, seperti ISBI Kalimantan Timur, ISBI Bandung, ISI Surakarta, Universitas Negeri Makassar, dan Universitas Gadjah Mada, juga menunjukkan kuatnya jejaring antarlembaga dalam pengembangan seni pertunjukan dan etnomusikologi di Indonesia.

Melalui tiga hari pertunjukan tersebut, IDEF 2026 diharapkan menjadi perayaan keberagaman bunyi sekaligus sarana memperluas apresiasi masyarakat terhadap kekayaan musik Nusantara dan perkembangan musik dunia. Masyarakat dapat hadir mulai pukul 16.00 WIB pada 23–25 Juli 2026 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tanpa dipungut biaya.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID