Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Forum PAK SIJI DIY di ISI Yogyakarta Dorong Antikorupsi Menjadi Budaya Akademik

Forum PAK SIJI DIY di ISI Yogyakarta Dorong Antikorupsi Menjadi Budaya Akademik

Yogyakarta, 20 Mei 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi tuan rumah seminar bertajuk “Dari Diskusi ke Aksi: Merencanakan Bersama Program Pendidikan Antikorupsi sebagai Pondasi Integritas” yang digelar di Gedung Rektorat ISI Yogyakarta dan secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (20/5). Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta dari unsur perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan pendidikan antikorupsi.

Seminar ini merupakan kolaborasi antara Perpaksinas, ISI Yogyakarta, Forum PAK SIJI DIY, Inspektorat DIY, dan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI). Melalui forum ini, para mitra mendorong penguatan pendidikan antikorupsi sebagai bagian dari pembentukan budaya integritas di lingkungan perguruan tinggi.

Kehadiran seminar ini menjadi penting karena menempatkan kampus tidak hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, etika, dan tanggung jawab sosial. Bagi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni, pendidikan antikorupsi memiliki ruang aktualisasi yang luas melalui karya kreatif, praktik budaya, dan ekspresi artistik yang dekat dengan masyarakat.

Ketua Forum PAK SIJI DIY, Dr. Totok Suharto, S.T., M.Si., menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dibicarakan dalam tataran wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang perlu diperkuat adalah pendidikan.

“Pendidikan antikorupsi menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas sejak dini,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem antikorupsi karena berada di garis depan pembentukan generasi muda. Nilai integritas perlu ditanamkan tidak hanya melalui mata kuliah, tetapi juga melalui budaya organisasi, tata kelola kampus, kegiatan kemahasiswaan, dan praktik kehidupan akademik sehari-hari.

Ketua Perpaksinas, Master Yudi Ismono, menyampaikan bahwa gerakan pendidikan antikorupsi harus dibangun secara bersama dan berkelanjutan. Kolaborasi antara kampus, pemerintah, lembaga antikorupsi, dan masyarakat menjadi kunci agar pendidikan antikorupsi tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

“Kolaborasi ini diharapkan menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat budaya integritas, tidak hanya di lingkungan pendidikan tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., menekankan bahwa pendidikan antikorupsi harus hidup dalam budaya akademik sehari-hari. Ia menyampaikan bahwa kampus seni memiliki kekuatan khas dalam menyampaikan pesan moral, sosial, dan kebangsaan melalui pendekatan kreatif.

Menurut Rektor, seni mampu menghadirkan pesan integritas dengan cara yang lebih komunikatif, reflektif, dan menyentuh pengalaman masyarakat. Melalui karya visual, musik, film, pertunjukan, desain, hingga media kreatif lainnya, nilai antikorupsi dapat disampaikan secara lebih dekat kepada generasi muda.

“ISI Yogyakarta memiliki tanggung jawab akademik dan kultural untuk mengambil bagian dalam gerakan pendidikan antikorupsi. Seni dapat menjadi bahasa yang kuat untuk menyampaikan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian moral,” demikian pesan yang mengemuka dalam forum tersebut.

Perwakilan KPK RI dalam kegiatan ini menegaskan bahwa strategi pemberantasan korupsi harus berjalan secara terpadu melalui pendidikan, pencegahan, dan penindakan. Dalam konteks perguruan tinggi, pendidikan antikorupsi perlu diintegrasikan melalui kurikulum, penguatan budaya kampus berintegritas, serta kolaborasi lintas institusi.

KPK juga mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya mengajarkan antikorupsi sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai praktik nyata dalam tata kelola, pembelajaran, organisasi kemahasiswaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, nilai integritas dapat menjadi bagian dari karakter lulusan perguruan tinggi.

Dalam seminar tersebut, seni mendapat perhatian khusus sebagai medium strategis dalam menyampaikan pesan antikorupsi. Seni tidak hanya dipahami sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik, kritik sosial, dan penguatan kesadaran moral. Melalui karya seni, isu integritas dapat dihadirkan dengan lebih humanis dan mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kegiatan ini juga ditandai dengan peluncuran implementasi pembelajaran antikorupsi melalui penguatan kurikulum, pengembangan modul, dan peningkatan kapasitas dosen. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi model bagi perguruan tinggi lain dalam membangun budaya akademik yang bersih, bermartabat, dan berorientasi pada kepentingan publik. Seminar menghadirkan narasumber Prof. Sumaryati, Suyitno, M.Pd., dan Megawati Attiyatunnajah, S.H. Para narasumber menegaskan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari ruang kelas, organisasi mahasiswa, karya seni, hingga kebiasaan sehari-hari di lingkungan kampus.

Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan dan pengembangan karya, tetapi juga pada pembentukan karakter, etika, dan kepedulian sosial. Komitmen tersebut menjadi bagian dari kontribusi ISI Yogyakarta dalam membangun generasi kreatif yang berintegritas.

Dengan semangat kolaborasi, ISI Yogyakarta bersama para mitra berkomitmen mendorong lahirnya generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki keberanian moral. Gerakan pendidikan antikorupsi ini diharapkan menjadi pondasi bagi masa depan Indonesia yang lebih bersih, adil, dan bermartabat.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID