Yogyakarta — Program Studi Tata Kelola Seni (TKS), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berbasis industri melalui penyelenggaraan Art Handling Workshop yang digelar pada Rabu (25/2/2026) di Galeri RJ Katamsi, Yogyakarta.
Kegiatan ini menghadirkan sekitar sepuluh art handler profesional dari Helutrans untuk memberikan edukasi langsung kepada mahasiswa mengenai standar operasional penanganan karya seni rupa sesuai praktik industri global. Workshop ini menjadi ruang belajar strategis yang mempertemukan mahasiswa dengan standar kerja profesional yang selama ini diterapkan dalam berbagai ajang seni internasional, termasuk Art Basel Hong Kong.
Dalam sesi praktik, mahasiswa mempelajari secara langsung teknik pemasangan (instalasi), pelepasan karya, hingga prosedur pengemasan (packing) yang aman dan presisi sesuai standar internasional. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai proses pergerakan karya seni (art movement), termasuk bagaimana karya-karya master kelas dunia ditangani dalam konteks art fair dan museum lintas negara.
Workshop ini menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya unggul dalam penciptaan dan kajian seni, tetapi juga dalam aspek tata kelola, manajemen, dan logistik karya seni di tingkat profesional. Pendekatan pembelajaran berbasis praktik industri menjadi keunggulan tersendiri bagi Program Studi Tata Kelola Seni, yang secara konsisten membangun jejaring dengan pelaku industri seni nasional dan internasional.
Dosen Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, menegaskan bahwa pembekalan semacam ini merupakan langkah krusial dalam menjembatani mahasiswa dengan realitas ekosistem seni rupa kontemporer.

“Mahasiswa perlu memahami standar profesional yang berlaku di industri seni global. Praktik langsung seperti ini penting agar mereka tidak hanya memiliki pengetahuan teoretis, tetapi juga kesiapan teknis dan manajerial dalam menghadapi art fair internasional, museum, maupun proyek pameran berskala besar,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki standar kompetensi yang kuat dalam manajemen logistik, teknis pameran, serta sistem kerja profesional yang menjadi fondasi dalam industri seni global.
Kehadiran praktisi internasional serta materi berbasis pengalaman lapangan memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai pusat pendidikan seni yang adaptif, responsif terhadap perkembangan industri, dan berorientasi pada daya saing lulusan. Workshop ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen ISI Yogyakarta dalam membangun ekosistem pendidikan seni yang terintegrasi antara akademik, praktik profesional, dan jejaring global.
Dengan penyelenggaraan kegiatan semacam ini, ISI Yogyakarta terus menegaskan diri sebagai perguruan tinggi seni unggulan yang mempersiapkan lulusannya tidak hanya sebagai kreator, tetapi juga sebagai profesional yang mampu beroperasi dalam sistem industri seni internasional secara kompeten dan berstandar global.






