YOGYAKARTA— Institut Seni Indonesia Yogyakarta memperkuat komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan seni yang inklusif melalui Workshop Bahasa Isyarat bagi Mahasiswa dan Dosen. Kegiatan bertema “Mengenal Bahasa Isyarat untuk Membangun Budaya Inklusif di Kampus Seni” tersebut diselenggarakan oleh Unit Layanan Disabilitas atau ULD ISI Yogyakarta di Gedung Ajiyasa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Senin, 24 November 2025.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan kompetensi sivitas akademika dalam memberikan layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas. Melalui penguasaan dasar-dasar bahasa isyarat, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih ramah serta mampu menciptakan ruang pembelajaran seni yang dapat diakses secara setara.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan ISI Yogyakarta, Dr. Dewanto Sukistono, M.Sn., serta diawali sambutan Ketua ULD ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Suastiwi, M.Des. Rangkaian workshop mencakup pengenalan bahasa isyarat, pembelajaran dasar, sesi tanya jawab, serta praktik berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
Materi disampaikan oleh Pusat Bahasa Isyarat Indonesia atau Pusbisindo Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelibatan Pusbisindo memperkuat jejaring ISI Yogyakarta dengan komunitas penyandang disabilitas sekaligus memastikan pembelajaran diberikan melalui pendekatan yang relevan dengan kebutuhan dan pengalaman masyarakat Tuli.

Workshop diikuti oleh 20 peserta yang mewakili berbagai unsur di lingkungan ISI Yogyakarta. Peserta terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, pengelola ULD, layanan bimbingan dan konseling, UPA Perpustakaan, serta unsur Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi. Perwakilan peserta berasal dari Fakultas Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Media Rekam, serta Fakultas Seni Rupa dan Desain.
Komposisi peserta lintas unit tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kampus inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab ULD, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur perguruan tinggi. Peserta juga diprioritaskan dari program studi yang memiliki mahasiswa dengan hambatan pendengaran agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung dalam proses perkuliahan, pelayanan akademik, serta interaksi sehari-hari di kampus.
Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar berbahasa isyarat, workshop diarahkan untuk menjaring calon relawan “Teman Inklusif”. Kehadiran relawan tersebut diharapkan dapat mendukung mahasiswa penyandang disabilitas dalam berkomunikasi, mengikuti kegiatan akademik, mengakses layanan kampus, dan berpartisipasi dalam aktivitas kemahasiswaan.


Program ini merupakan bagian dari agenda strategis ULD ISI Yogyakarta dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan inklusif. Agenda tersebut mencakup penyusunan panduan layanan pendidikan inklusif di kampus seni, rekomendasi penyesuaian kurikulum dan fasilitas, penyusunan grand design pengembangan ULD, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan materi sosialisasi dan promosi ISI Yogyakarta sebagai kampus inklusif.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penyusunan SOP pelayanan akademik bagi mahasiswa penyandang disabilitas, dokumen sarana dan prasarana kampus inklusif, SOP penerimaan mahasiswa baru penyandang disabilitas, sosialisasi kepada organisasi mahasiswa, serta peningkatan kapasitas pendamping mahasiswa. Rangkaian program itu memperlihatkan bahwa pengembangan layanan inklusi dilakukan secara sistematis, mulai dari proses penerimaan mahasiswa hingga penyediaan dukungan selama menjalani pendidikan.


Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Yogyakarta memiliki lingkungan pembelajaran yang bertumpu pada praktik, penciptaan, pertunjukan, komunikasi visual, serta kerja kolaboratif. Karena itu, kemampuan memahami keberagaman cara berkomunikasi menjadi bagian penting dalam menghadirkan pendidikan seni yang humanis dan memberikan kesempatan berkarya kepada seluruh mahasiswa.
Penguatan layanan disabilitas juga menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian artistik dan akademik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang menghargai keberagaman. Melalui workshop bahasa isyarat dan pengembangan layanan inklusi yang berkelanjutan, ISI Yogyakarta bergerak menuju kampus seni yang semakin terbuka, setara, serta memberikan ruang bagi setiap individu untuk belajar, berkarya, dan berprestasi.






