{"id":34526,"date":"2026-09-19T12:41:30","date_gmt":"2026-09-19T05:41:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.isi.ac.id\/?p=34526"},"modified":"2026-09-21T12:52:32","modified_gmt":"2026-09-21T05:52:32","slug":"riset-artistik-nagara-krtagama-perkuat-peran-isi-yogyakarta-dalam-pengembangan-seni-berbasis-budaya-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/2026\/09\/19\/riset-artistik-nagara-krtagama-perkuat-peran-isi-yogyakarta-dalam-pengembangan-seni-berbasis-budaya-nusantara\/","title":{"rendered":"Riset Artistik Nagara Krtagama Perkuat Peran ISI Yogyakarta dalam Pengembangan Seni Berbasis Budaya Nusantara"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Yogyakarta, 19 September 2026  \u2014 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akan menggelar sesi berbagi karya artistik bertajuk <em>Transforming the Nagara Krtagama into Symphonic Composition<\/em> bersama Singgih Sanjaya dan Kelas Orkestra II Program Studi Penyajian Musik, Rabu, 23 September 2026, pukul 15.30 WIB di Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan proses penciptaan musik sebagai ruang pertemuan antara riset, sejarah, identitas budaya, dan praktik artistik kontemporer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui sesi tersebut, peserta akan diajak menelusuri bagaimana <em>Nagara Krtagama<\/em>, salah satu sumber penting dalam khazanah sejarah Nusantara, ditransformasikan ke dalam bahasa musikal melalui karya <em>Indonesia Mulia Symphony<\/em>. Pembahasan tidak hanya berfokus pada hasil akhir komposisi, tetapi juga pada proses membangun narasi musikal, menerjemahkan gagasan sejarah ke dalam struktur musik, serta mengolah identitas budaya sebagai sumber penciptaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karya tersebut memiliki landasan riset artistik yang kuat. Koleksi Perpustakaan ISI Yogyakarta mencatat karya Singgih Sanjaya berjudul <em>Transformasi Nagara Krtagama dalam Simfoni Indonesia Mulia<\/em> sebagai disertasi tahun 2019 yang kemudian juga diterbitkan dalam bentuk buku. Dokumentasi penelitian menjelaskan bahwa komposisi tersebut dirancang untuk orkestra, paduan suara, dan sejumlah instrumen gamelan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses penciptaannya memadukan kajian literatur musik dan sejarah, eksplorasi serta eksperimen musikal, observasi berbagai komposisi, kunjungan ke situs-situs sejarah, hingga proses mendengarkan, mengevaluasi, dan merevisi karya. <em>Indonesia Mulia Symphony<\/em> disusun dalam tiga bagian utama, yakni <em>Introduksi<\/em>, <em>Nagara Krtagama<\/em>, and <em>Indonesia Mulia<\/em>, yang diikat melalui pengembangan tema melodi dan harmoni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehadiran materi tersebut dalam Kelas Orkestra II menjadikan kegiatan ini lebih dari sekadar forum berbagi pengalaman penciptaan. Mahasiswa memperoleh kesempatan melihat secara langsung bagaimana penelitian dapat dikembangkan menjadi karya seni, kemudian diterjemahkan kembali ke dalam proses pembelajaran, interpretasi, latihan, dan penyajian musik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model pembelajaran semacam ini memperlihatkan karakter pendidikan seni di ISI Yogyakarta yang mempertemukan pengetahuan akademik, praktik penciptaan, dan pengalaman artistik dalam satu ekosistem. Pendekatan tersebut relevan dengan orientasi Program Studi D4 Penyajian Musik ISI Yogyakarta yang mengembangkan penguasaan teori, praktik instrumen dan vokal, teknologi musik, ansambel, musik kamar hingga <em>live concert<\/em>. ISI Yogyakarta juga mencatat D4 Penyajian Musik sebagai program vokasi musik pertama di Indonesia pada jenjang Diploma IV.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan menjadikan warisan budaya Nusantara sebagai sumber penciptaan musik simfoni, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kemungkinan pengembangan tradisi melalui pendekatan artistik yang terus bergerak. Warisan sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai objek kajian, tetapi dapat dibaca kembali, diinterpretasikan, dan dikembangkan menjadi pengetahuan maupun karya baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Forum bersama Singgih Sanjaya juga memperkuat lingkungan akademik di ISI Yogyakarta sebagai ruang bagi seniman, peneliti, dosen, dan mahasiswa untuk mendiskusikan proses kreatif secara terbuka. Pertemuan antara penelitian dan penciptaan menjadi penting dalam pendidikan tinggi seni karena karya tidak berhenti sebagai produk estetis, melainkan juga dapat memiliki argumentasi, metodologi, serta kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan seni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta terus menghadirkan ruang akademik yang menempatkan kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inovasi. Transformasi <em>Nagara Krtagama<\/em> menjadi komposisi simfoni menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi seni dapat berperan dalam merawat ingatan budaya sekaligus menghasilkan bahasa artistik yang relevan dengan perkembangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sessions <em>Transforming the Nagara Krtagama into Symphonic Composition<\/em> terbuka untuk umum. Masyarakat, mahasiswa, musisi, peneliti, serta pemerhati seni dapat mengikuti kegiatan pada Rabu, 23 September 2026 pukul 15.30 WIB di Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Konfirmasi kehadiran dapat dilakukan melalui Sovia di 0813 7487 7458.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Mari-bedah-proses-transformasi-naskah-sejarah-Nagara-Krtagama-menjadi-komposisi-simfoni-dalam-se-768x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-34527\" srcset=\"https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Mari-bedah-proses-transformasi-naskah-sejarah-Nagara-Krtagama-menjadi-komposisi-simfoni-dalam-se-768x1024.jpg 768w, https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Mari-bedah-proses-transformasi-naskah-sejarah-Nagara-Krtagama-menjadi-komposisi-simfoni-dalam-se-640x853.jpg 640w, https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Mari-bedah-proses-transformasi-naskah-sejarah-Nagara-Krtagama-menjadi-komposisi-simfoni-dalam-se-400x533.jpg 400w, https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Mari-bedah-proses-transformasi-naskah-sejarah-Nagara-Krtagama-menjadi-komposisi-simfoni-dalam-se-367x489.jpg 367w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yogyakarta, 19 September 2026 \u2014 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akan menggelar sesi berbagi karya artistik bertajuk Transforming the Nagara Krtagama into Symphonic Composition bersama Singgih Sanjaya dan Kelas Orkestra II Program Studi Penyajian Musik, Rabu, 23 September 2026, pukul 15.30 WIB di Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan proses penciptaan musik sebagai ruang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":34528,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46,37,649,55],"tags":[],"class_list":["post-34526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-agenda","category-berita-dan-info","category-kampus-berdampak","category-pertunjukan-2"],"a3_pvc":{"activated":false,"total_views":0,"today_views":0},"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WEB.-13-1140x445.png",1140,445,true],"list":["https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WEB.-13-463x348.png",463,348,true],"medium":["https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WEB.-13-300x226.png",300,226,true],"full":["https:\/\/www.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WEB.-13.png",1920,1446,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34526"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34526\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34529,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34526\/revisions\/34529"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}